Bawa badan doang.. (cerita dibalik tsunami selat sunda)


gunung-anak-krakatauJelang tahun baru, meski gegap gempita pergantian tahun masih menggema seantro jagat raya. Ada yang sedikit berbeda, Di Lampung khususnya, dimana Gunung Anak Krakatau yang selama seminggu kebelakang sering batuk batuk, bahkan tanggal 22 desember lalu sempat runtuh sebagian, jatuh kelaut dan menyebabkan tsunami dibeberapa daerah seperti tanjung lesung dan kalianda yang merasakan efeknya hingga memakan korban band kenamaan Indonesia ‘seventeen’ dan Argo jimmy yang dikenal dengan Aa Jimmy, yang saat itu sedang menjadi bintang tamu diacara Employee Gathering PLN UIT JBB di tanjung lesung. Beberapa personel seventeen seperti basis, gitaris, dan drummer mereka ikut menjadi korban keganasan tsunami.

Kita Flash Back dikit..
Kerena tempat tinggal kami sekarang hanya beberapa meter dari bibir pantai, begitu mendengar info di kalianda mengalami tsunami kami langsung bergegas ikut ngungsi. Tapi Satu panggilan telpon pertama dari teman memberitahukan kalo keluarganya dikalianda sudah pada ngungsi karena disana terkena gelombang tsunami, tapi kami masing tenang-tenang saja karena toh ombak disekitar rumah masih seperti biasanya. Tapi disaat tetangga sebelah juga menelpon mengabarkan kalo mereka sudah mengungsi, mendadak kami langsung belingsatan. Gimanapun caranya, pokoknya ngungsi dulu dari rumah, cari tempat tinggi.

Yang terfikirkan saat itu hanya ngungsi dan ngungsi, dan kalian tau apa yang kami bawa ngungsi. Hanya dokumen seperti ijasah dan lain-lain yang sudah siap dalam map besar tinggal bawa dan bawa badan doang, untung masih pake kolor..(Hahaha). Dengan modal itu kami keluar rumah, sambil ‘gedor’ tetangga yang belum dengar info tsunami, mengajak untuk mengungsi.

Ada seorang tetangga yang mempunyai anak balita, yang mana suaminya tugas dinas malam. Langsung gupex mendengar info tsunami, ditambah lagi sianak nangis tak henti saat sang ibu sibuk menyiapkan barang bawaan. Alhasil, barang yang dibawa hanya sedapatnya seperti susu anak dan kunci mobil (tapi mobilnya ditinggal karena ikut kami), lucunya dia lupa menaruh kunci rumah karena gupex jadi rumah ditinggal dalam keadaan tidak terkunci. Untungnya rumah dalam perumahan one gate system, jadi sedikit lebih safe meski pintu tak terkunci (sementara).

Saat mengamati para bu-ibu sibuk dengan menyiapkan barang yang akan dibawa, aku tersadar kalo dompetku tertinggal. Langsung dong kasih tau istri kalo dompet mau ambil dompet dulu, ehh tetangga depan rumah itu sudah sibuk klakson seperti orang kebelet pup (Hahaha) karena mobil kami menghalangi jalan keluar mobilnya, padahal itu hanya hitungan detik, gupex parah tu orang. Maklum aja jalan perumahan cuma muat 2 mobil berjejer dan kami berada tepat didepan jalan mobil keluar.. Hahaha.

Setelah dipastikan dompet sudah ready, takut-takut entar laper dijalan atau mau check in di hotel (tapi boong) gak bawa uang..Hahaha. kami melaju menyusuri jalan keluar perumahan sambil celingukan ternyata masih ada yang belum ngungsi, otomatis istri langsung turun dan gedor tuh rumah  tetangga tapi tau gak expresi si tetangga yang bengong saat diajak ngungsi, kayak tersepona dibilangin istri ayo cepet ngungsi, bawa badan aja. Dari kejauhan saya ngeliatnya mau ketawa, tapi takut dosa ditambah lagi momennya gak pas kalo mau ketawa disaat momen gupex begini, tapi sekarang bodo amat mau saya ketawain aja… hahaha.

Setelah itu kami langsung cuss, karena sepertinya tugas gedor-gedor sudah diambil alih security. Kami mendapat info, jalan ramai karena Sepanjang jalan pesisir pantai teluk lampung semua orang sedang sibuk ngungsi dan mencari tempat tinggi. Untuk itu kami lewat jalan lain yang penting aman dan lebih tinggi dari pesisir pantai.

Sesampainya ditemapat saudara, yang kebetulan saat itu rumah sedang kosong karena ditinggal liburan. Para bu-ibu tak hentinya cekikikan mengingat tingkah gupex mereka saat bersiap ngungsi tadi. Ada yang bawa kunci mobil, mobilnya ditinggal, rumah ditinggal tak terkunci, untung masih pada pake BH karena saat itu sudah waktunya jam tidur (yang tau aja).. Hahaha.

Karena masih penasaran dengan isu tsunami yang buat kami gupex bin kelipungan (bukan makanan), saya cari informasi dong mulai dari otak atik hape sampe cari berita di tipi, tapi hingga tengah malam BMKG dan berita orang terkenal di twitter masih menginfokan kalo itu hanya pasang air laut. Sampai akhirnya kalo tak salah jam 1 lebih dikit, ada wawancara terkait berita ini dan narasumber mengkonfirmasi kalo itu tsunami namun masih belum jelas penyebabnya. Dan akhirnya melalui asumsi-asumsi para expert dibidangnya, dan pergerakan Gunung Anak Krakatau yang masih batuk-batuk, ditetapkan tsunami disebabkan runtuhan erupsi Gunung Anak Krakatau yang jatuh kelaut yang menyebabkan terbentuknya gelombang.

Berhubung ngungsi semalam cuma bawa badan doang dan bawa-bawa tetangga ngungsinya akhirnya pagi balik lagi kerumah, dan memang disekitar rumah tidak terjadi apa-apa, air pasang pun gak naik ke jalan karena biasanya kalo air laut pasang pasti jalanan dan siring sudah dipenuhi air laut.

Hari-hari berlalu tidak seperti biasa, barang-barang sudah standby di bagasi. Ada isu tsunami dikit siap langsung cabut ngungsi lagi, tapi sekarang sudah lebih siap karena baju ganti dan surat penting lainnya sudah aman. Masyarakat sekitar pantai banyak yang mengungsi ke atas gunung membuat tenda hingga menginap dirumah sanak saudara yang tinggal digunung. Para bapak-bapak standby dibibir pantai, memantau pergerakan air laut setiap malam.

Sampai suatu pagi tanggal 27 desember 2018, status Gunung Anak Krakatau naik dari Waspada (level 2) menjadi Siaga (level 3) radius berbahaya naik dari 2 KM jadi 5 KM, secara otomatis yang dirumah langsung parno dong, padahal ada beberapa tetangga yang biasa-biasa saja menanggapi perubahan status mau kabur juga kemana karena perantauan tak punya saudara.. Haha. Bahkan ada yang rumahnya paling ujung, kira-kira 20 meter dari bibir pantaipun masih selow aja beraktifitas seperti biasa, emak-bapak kerja dan anak-anak sama bibi dirumah.

Apapun alasannya, yang penting semua merasa nyaman dengan kondisinya. Kalo saya lebih nyaman saat para gadis-gadis dirumah tidak khawatir dengan kondisi yang sekarang dihadapi. Meskipun jarak Gunung anak Krakatau lebih dari 60 KM jauhnya dan kemungkinan tsunami sangat kecil karena sudah terpecah di pulau sebrang pantai pasir putih, kalo yang dirumah khawatir kita juga gak tenang kalo ninggalin mereka saat kita kerja.

Dan akhirnya kami ngungsi lagi..
Kebetulan jatah cuti masih sisa banyak, jadi kami manfaatkan untuk lepas dari status siaga yang bikin was-was. Menginap dirumah saudara yang jauh dari pantai dan sudah kembali dari liburannya. Menghabiskan waktu dengan berkumpul keluarga, berenang hingga main bom-bom car untuk menyenangkan bocah-bocah.

Hingga jelang tahun baru , dimana pemerintah daerah mengeluarkan peringatan untuk tetap menjauhi pantai dan  dihimbau untuk tidak mengadakan pesta dan diganti dengan doa bersama. Dan tiba saatnya malam tahun baru yang biasanya jalanan munuju pantai ramai hingga macet, saat itu lengang cenderung sepi. Sampai tengah malam yang biasanya ramai dengan hingar-bingar kembang api dipantai-pantai, malam itu sepi. Sepertinya masyarakat mendengarkan himbauan pemerintah daerah untuk tidak berpesta, entah itu untuk dipantai saja atau mereka pindah lokasi pestanya ke gunung. (Hehe), udah dulu ya, kapan-kapa lanju lagi, bye.

Penulis: Yan shu

" Menyempatkan waktu untuk membaca, berarti memberi kesempatan kita membuka jendela dunia "

Jangan lupa "Like" dulu ya :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s