Cerita membagi undangan


undanganUndangan.. Undangan.. Undangan..
Begitu selesai dibuat dengan hasil cukup memuaskan terlihat banyak banget, sampe bingung mulai darimana !!! Karena awalnya merasa sok yakin kalo undangan-undangan ini lebih mau dibagaimanakan, dan ternyata diluar dugaan ternyata harus nambah cetakan sebanyak 200 lagi.. wow.. Hitungan awal meleset sama sekali, yang diyakini jumlahnya tak akan mencapai pemesanan  meski sebelumnya sudah di rinci nama-nama yang akan diundang tapi nama “tak terduga” muncul diakhir-akhir akan di distribusikan.

Banyak cerita sebenarnya dari kami saat membagikan undangan kami ini, tapi mungkin beberapa akan saya ceritakan dalam postingan kali ini. Untuk sekedar berbagi cerita atau pengingat cerita saat-saat kami (Yan & achie) mengingat-ingat masa kami menggapai gelar sebagai seorang suami-istri.. Haseeekkk.

Ceritaku untuk membagi undangan di hari pertama tak banyak yang berarti, karena seperti pada postingan [Hanya] Sebuah Penghargaan yang menjelaskan lebih mengutamakan untuk membagikan di rumah. Saya membagikan undangan langsung ke rumah-rumah kecuali teman-teman kantor yang tidak tinggal di komplek yang sama langsung saya berikan dikantor karena banyak yang saya tidak tahu rumahnya dengan bantuan teman yang mengetahui posisi ruangan yang bersangkutan, maklum saja saya kan koki listrik bukan orang kantoran.. hehehe.

Hari kedua membagikan teman-teman yang sudah tahu rumahnya meskipun saat membagikan saya tidak dapat bertemu mereka langsung karena memang hari itu hari kerja bukan hari libur . Tapi karena tak menyusun rute yang dapat memudahkan, akhirnya saya sedikit kelabakan hingga saya harus melintasi jalan yang sama sampai beberapa kali.. ckckck. Ditambah lagi pembimbing yang tiba-tiba minta ditemui untuk ‘suatu’ hal dirumahnya, sebuah kesalahan kalo kita memmbagikan undangan adalah berttanya alamat kepada “Bocah”, yang gak update tentang perubahan nama jalan yang membuat saya berputar-putar. Dan jangan sampai bertanya kepada “orang yang salah”, karena saya mengalaminya saat bertanya sebuah alamat lengkap, orang itu malah bertanya : ” Bapak yang ini..itu.. ya ? Mau ngapain ketemu bapak itu ? Sebelumnya dia orang mana ? Dengan muka bingung, saya kabur dari orang itu dengan memutus omongan nya yang belum juga berhenti… hiiiii.

Dan  saran dari saya, jangan membagi undangan pada malam hari apalagi ke tempat yang kita belum tahu jalan dan daerahnya. Karena saya suka linglung jalan yang hanya sesekali dilewati, apalagi jalan yang memiliki banyak gang tembusan. Terus-terus saja tau nya jalan buntu atau tembus sawah.. hahahaha. Udal dulu ahh, udah panjang ceritanya dan malu juga cerita kecerobohan sendiri.. Hihihi.

Baca juga :

Penulis: Yan shu

" Menyempatkan waktu untuk membaca, berarti memberi kesempatan kita membuka jendela dunia "

6 thoughts on “Cerita membagi undangan”

  1. Selamat menempuh baru ya yan…..semoga menjadi keluarga ” SAMAWA ” , ♡☀Å♏iN☀♡

Jangan lupa "like" dulu ya :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s