Yang ‘ditanda tangani’.


Pagi yang cerah mengawali saat terindah bagi sahabatku, dihari minggu pagi 13 november yang mengawali kehidupan baru nya dan melepas masa bujangnya. Yah, pagi itu sahabatku akan menikah, dan  gue kudu jadi sahabat terbaiknya yang akan menemaninya saat ijab qabul. Pukul 6.30 wib pagi itu saat alarm berdering dari handphone bututku. Dan tak lupa memastikan gadisku sudah bangun juga, namun nampaknya pagi itu mataku sulit untuk kompromi dan ternyata jam 7.30  wib baru tersadar dari tidurku.

Setelah mandi dan sarapan saadanya, gue akhirnya berangkat menuju tempat resepsi yang sebelumnya menjemput gadisku dirumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 8.50 wib sedangkan resepsi dijadwalkan pukul 9.00 wib , jadi buru-buru ngebut bawa motor gue biar kagak telat. Dan alhamdulillah ya, gue kagak telat sampe sana.

Ijab qobul yang saat itu dilaksanakan didekat rumah mempelai wanita nya dalam sebuah masjid, nampak sudah penuh sesakk dengan sanak keluarga dari kedua mempelai. Suasana yang hening terpecahkan oleh seorang bayi yang merengek tak hentinya menangis entah kenapa, dan karena tak enak sang ibu pun akhirnya keluar masjid untuk menenangkan putri tercintanya itu. Tertib acara terus berjalan dipandu MC yang sedari tadi cuap-cuap,.

Dan saat-saat mendebarkan dimulai saat prosesi ijab qobul dilaksanakan yang membuat setiap calon pengantin pria gugup dibuatnya karena kudu menghafalkan teks yang menurutnya panjang dan bikin gigi bergetar karena neurvous. Tapi itu semua lenyap saat itu dilafalkan dengan singkat, kira-kira kalo ga salah denger lafalnya adalah saya terima nikahnya dengan mas kawin tersebut. Sedangkan para calon pengantin pria (denger dari teman-teman) sudah menghafalkan yang menyebutkan isi mas kawin juga disebutkan. Ternyata ijab bisa disingkat juga ya.. hehehe.

Dan sebuah moment yang menurutku menggelikan yaitu saat mempelai pria sahabatku membacakan isi buku nikah miliknya, dimana saat itu dia mengikuti perintah sang penghulu untuk membacakan buku nikah dan saat selesai sang penghulu berucap :” ditanda tangani”. Entah karena gugup bukanya pengantin pria sahabatku itu menanda tangani malah melafalkan kembali ucapan penghulu itu, “ditanda tangani”. Sontak para keluarga yang hadir tertawa geli mendengarnya dan menjadi moment yang benar-benar tak terlupakan dengan kata “ditanda tangani”.

Dan buat sahabatku itu (Katon & agie), selamat menempuh hidup baru. Semoga mmenjadi keluarga yang SAMARA.

Penulis: Yan shu

" Menyempatkan waktu untuk membaca, berarti memberi kesempatan kita membuka jendela dunia "

Jangan lupa "like" dulu ya :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s